Langsung ke konten utama

Menjelang Natal

Salah satu kegiatan rohani yang dilakukan umat Katolik menjelang Natal adalah membuat gua atau kandang Natal, baik di rumah, di kantor, maupun di kapel atau gereja. Gua Natal adalah khas tradisi Katolik.

St. Bonaventura dalam bukunya Riwayat Santo Fransiskus dari Asisi menceritakan tentang awal mula munculnya gua Natal ini. Dikisahkan, “Guna membangkitkan gairah penduduk Grecio, provinsi Rieti - Lazio, dalam mengenangkan kelahiran Bayi Yesus, Fransiskus merayakan Natal dengan sekhidmat mungkin. Fransiskus mempersiapkan sebuah palungan, mengangkut jerami, juga menggiring seekor lembu jantan dan keledai ke tempat yang telah ditentukannya”.

Selanjutnya, “Para biarawan berkumpul, penduduk berhimpun, alam dipenuhi gema suara mereka, dan malam yang kudus itu dimeriahkan dengan cahaya benderang dan merdunya nyanyian puji-pujian. Fransiskus berada di depan palungan, bersembah sujud dalam segala kesalehan, dengan bercucuran air mata dan berseri-seri penuh sukacita. Kitab Suci dikidungkan oleh Fransiskus, Utusan Tuhan. Kemudian ia menyampaikan khotbah kepada umat di sekeliling tempat kelahiran sang Raja miskin; tak sanggup menyebutkan nama-Nya oleh karena kelembutan kasih-Nya, ia menyebut-Nya sang Bayi dari Betlehem. Dengan sangat hati-hati, Fransiskus menggendong bayi Yesus dalam pelukannya, seolah-olah takut membangunkan sang Bayi dari tidur-Nya”

Kalau sampai sekarang ini kita meneruskan tradisi dengan membuat gua atau kandang natal, lalu apa pesannya atau bagaimana kita memaknainya? Pesannya bagi kita sangat jelas. Gua Natal yang kita buat merupakan tanda pengingat yang kelihatan akan peristiwa itu, ketika Juruselamat kita dilahirkan. Kita senantiasa diingatkan untuk melihat dalam hati kita, sang Bayi mungil dari Betlehem yang datang untuk membebaskan kita dari dosa. Kayu palungan yang membuai-Nya dengan nyaman dan aman, suatu hari kelak akan menyediakan kayu salib bagi-Nya. Semoga kita juga senantiasa memeluk Dia dengan segala cinta dan kasih kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oportunis

Ketika seseorang bersikap lain dari pada jati dirinya, dengan mudah ia dinilai orang yang munafik. Juga ketika seseorang menyembunyikan "perasaan batin sesungguhnya" karena alasan kuat tertentu. Ketika seorang anak yang tahu ayahnya mengidap penyakit fatal pada stadium akhir tetapi ia bersikap biasa-biasa saja, mungkin anak itu juga akan menganggap ayahnya munafik. Namun sebagai anak yang 'baik' tentu menginginkan ayahnya tetap tidak tergoncang batinnya menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Barulah dalam kesendiriannya anak itu akan menangis, menguraskan air matanya. Apakah ia telah bersikap munafik di hadapan ayah dan orang-orang lainnya yang menjenguk sebagai tamu? Sikap menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya juga dapat terjadi karena faktor budaya yang sofistik. Ada orang yang dipermalukan secara telak di hadapan umum namun tetap tenang. Mimik mukanya pun hanya samar. Lain halnya mereka berbudaya kurang sofistik. Mereka tentu akan mudah mengumbar perasaanny...

Mengapa mesti ada sampah ya?

Setelah usai makan malam, saya turut membereskan ruang makan di komunitas. Waktu yang saya butuhkan lebih kurang 15 menit. Itu pun tidak sendirian. Bahkan sudah ada Carlos (chef/juru masak di komunitas) yang sejak sore tadi telah menyiapkan makan untuk kami, pun sampai kami selesai makan malam ia masih dengan kesiapsediaannya yang besar bersama dengan kami. Saya berinisiatif ambil bagian untuk membersihkan meja makan dari beberapa alat makan sampai dengan menyiapkan kembali untuk sarapan besok paginya. Dan seperti biasanya, bila segala sesuatunya sudah selesai, sebelum beranjak meninggalkan ruang makan, lampu di ruang makan mesti dimatikan, tak lupa saya menyapa Carlos dengan salam terimakasih dan selamat malam. Tapi saya mengurungkan sapaan dan salamku ketika melihat sebuah kotak sampah penuh dengan tumpukan sampah. Segera kurapikan dan kuangkat dan kuletakkan di gerobak motor. Saat itu juga aku kaget ketika melihat gerobak motor penuh dengan tumpukan sampah yang dibungkus plastik...

Menjaga 3K

Percaya atau tidak, bahwa menjalani hidup memang berbeda seribu derajat dengan membahas kehidupan. Dalam membahas kehidupan seperti dalam tulisan ini, enak saja kita mengganti, mengubah dan meng-audit langkah sekehendak kita, tetapi dalam menjalani, tentu saja tidak bisa kita meng-audit dan mengubah sekehendak kita. Ada sedikitnya tiga hal yang perlu dijaga seiring dengan keputusan kita untuk meng-audit dan memperbaharui langkah, yaitu: Pertama,  Kebutuhan . Kata orang, kebutuhan itu tidak mengenal kata nanti, bahkan ampun pun tidak. Ada juga yang mengatakan bahwa lebih enak ngomong sama orang yang marah ketimbang ngomong sama orang yang lapar. Ini semua menunjukkan bahwa kebutuhan itu tidak bisa diganggu-gugat dan karena itu, agenda apapun yang akan kita jalankan, hendaknya jangan sampai menganggu aktivitas kita dalam memenuhi kebutuhan. Atau dengan kata lain, hendaknya kita tetap menjalankan aktivitas yang sasarannya untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak bisa diganggu...