Langsung ke konten utama

Hadiah Tahun Baru dariku

(Ungkapan dari seorang sahabat)

Dear kawanku...
Maaf atas sikapku yang tidak tahu diri kawan
Aku tertawa saat kau sedang sedih.
Aku tertawa bukan karena aku tak mengerti kesedihan yang kau alami kawan.
Justru aku sangat mengerti akan kegalauan hatimu.
Maka aku pun tertawa agar kau setidaknya dapat TERSENYUM DALAM KESEDIHAN.

Maaf atas sikapku yang tidak tahu diri kawan
Aku menangis saat kau sedang berbahagia.
Bukan karena tidak sebahagia kau kawan
Tapi karena bahagia mu membuatku sangat bahagia hingga menangis.
KARENA SESUNGGUHNYA TIADA KEBAHAGIAN
YANG DAPAT MENANDINGI KEBAHAGIAAN
MELIHAT ORANG YANG KITA SAYANG SEDANG BERBAHAGIA.

Maaf atas sikapku yang tidak tahu diri kawan
Disaat semua orang meninggalkanmu aku akan ada disisimu.
Bukan untuk menyuportmu atau menghiburmu.
Aku berada disisimu hanya untuk menceritakan masalahku.
Agar kau tahu, meski mereka TAK MEMBUTUHKANMU,
aku disini masih MENGANDALKANMU.

Maaf atas sikapku yang tidak tahu diri kawan
Aku menamparmu saat kau tak lagi mau berjalan di jalan yang berat ini.
Bukan karena aku jahat dan tak berperasaan.
Tapi karena aku tahu siapa dirimu.
Aku tahu kau lebih dari pada itu.
Maka aku harus bersikap kejam agar kau tau
seberapa banyak KEKAYAAN YANG ADA DI DALAM DIRIMU

Maaf kawan aku TIDAKLAH SEINDAH KISAH CINTA PERTAMAMU.
Meskipun juga TAK SEKELAM CERITA MASA LALUMU YANG PALING GELAP.
TAPI YAKINLAH kawan,
aku akan selalu menemanimu untuk melewati setiap penggal cerita dalam hidupmu.
Karena sesungguhnya sahabat sejati takkan pernah mengeluh dan pergi meninggalkanmu.
Ia akan terus berada disisimu meski kau tak mampu melihatnya.
Maaf kawan aku ingin di TAHUN YANG BARU INI kita membuka lembaran baru
*) dicopy dari cerita & motivasi group

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oportunis

Ketika seseorang bersikap lain dari pada jati dirinya, dengan mudah ia dinilai orang yang munafik. Juga ketika seseorang menyembunyikan "perasaan batin sesungguhnya" karena alasan kuat tertentu. Ketika seorang anak yang tahu ayahnya mengidap penyakit fatal pada stadium akhir tetapi ia bersikap biasa-biasa saja, mungkin anak itu juga akan menganggap ayahnya munafik. Namun sebagai anak yang 'baik' tentu menginginkan ayahnya tetap tidak tergoncang batinnya menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Barulah dalam kesendiriannya anak itu akan menangis, menguraskan air matanya. Apakah ia telah bersikap munafik di hadapan ayah dan orang-orang lainnya yang menjenguk sebagai tamu? Sikap menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya juga dapat terjadi karena faktor budaya yang sofistik. Ada orang yang dipermalukan secara telak di hadapan umum namun tetap tenang. Mimik mukanya pun hanya samar. Lain halnya mereka berbudaya kurang sofistik. Mereka tentu akan mudah mengumbar perasaanny...

Mengapa mesti ada sampah ya?

Setelah usai makan malam, saya turut membereskan ruang makan di komunitas. Waktu yang saya butuhkan lebih kurang 15 menit. Itu pun tidak sendirian. Bahkan sudah ada Carlos (chef/juru masak di komunitas) yang sejak sore tadi telah menyiapkan makan untuk kami, pun sampai kami selesai makan malam ia masih dengan kesiapsediaannya yang besar bersama dengan kami. Saya berinisiatif ambil bagian untuk membersihkan meja makan dari beberapa alat makan sampai dengan menyiapkan kembali untuk sarapan besok paginya. Dan seperti biasanya, bila segala sesuatunya sudah selesai, sebelum beranjak meninggalkan ruang makan, lampu di ruang makan mesti dimatikan, tak lupa saya menyapa Carlos dengan salam terimakasih dan selamat malam. Tapi saya mengurungkan sapaan dan salamku ketika melihat sebuah kotak sampah penuh dengan tumpukan sampah. Segera kurapikan dan kuangkat dan kuletakkan di gerobak motor. Saat itu juga aku kaget ketika melihat gerobak motor penuh dengan tumpukan sampah yang dibungkus plastik...

Menjaga 3K

Percaya atau tidak, bahwa menjalani hidup memang berbeda seribu derajat dengan membahas kehidupan. Dalam membahas kehidupan seperti dalam tulisan ini, enak saja kita mengganti, mengubah dan meng-audit langkah sekehendak kita, tetapi dalam menjalani, tentu saja tidak bisa kita meng-audit dan mengubah sekehendak kita. Ada sedikitnya tiga hal yang perlu dijaga seiring dengan keputusan kita untuk meng-audit dan memperbaharui langkah, yaitu: Pertama,  Kebutuhan . Kata orang, kebutuhan itu tidak mengenal kata nanti, bahkan ampun pun tidak. Ada juga yang mengatakan bahwa lebih enak ngomong sama orang yang marah ketimbang ngomong sama orang yang lapar. Ini semua menunjukkan bahwa kebutuhan itu tidak bisa diganggu-gugat dan karena itu, agenda apapun yang akan kita jalankan, hendaknya jangan sampai menganggu aktivitas kita dalam memenuhi kebutuhan. Atau dengan kata lain, hendaknya kita tetap menjalankan aktivitas yang sasarannya untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak bisa diganggu...