Langsung ke konten utama

nDablek

Itulah sebuah kata yang mau melukiskan bagaimana orang yang secara sengaja tidak mau atau sulit mendengarkan, entah itu nasihat orang lain atau aturan yang ada. Kata “ndableg” juga dapat diartikan sebagai mengikuti kemauan sendiri tanpa memperhatikan aturan atau pendapat orang lain. Tidak sedikit bahwa orang memakai istilah "Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan".

Memang tidak sedikit orang yang keberatan untuk membuka diri terhadap nasihat atau mengindahkan peraturan. Ada saatnya juga kita perlu menerapkan ungkapan ndablek itu untuk diri kita sendiri. Khususnya saat kita mendengar komentar negatif dan cemoohan dari lingkungan kita, tetapi kita cenderung kurang mendengarkan dan tidak mengindahkan. Meskipun kadang itu benar, atau pun kadang sekedar omong kosong belaka.

Fenomena  “nDABLEG” juga bisa kita lihat dan jumpai  dalam sisi yang lain, misalnya: di tempat dilarang merokok juga masih banyak orang merokok, di tempat orang harus antri juga masih banyak orang yang menyerobot tidak mau antri, dsbnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oportunis

Ketika seseorang bersikap lain dari pada jati dirinya, dengan mudah ia dinilai orang yang munafik. Juga ketika seseorang menyembunyikan "perasaan batin sesungguhnya" karena alasan kuat tertentu. Ketika seorang anak yang tahu ayahnya mengidap penyakit fatal pada stadium akhir tetapi ia bersikap biasa-biasa saja, mungkin anak itu juga akan menganggap ayahnya munafik. Namun sebagai anak yang 'baik' tentu menginginkan ayahnya tetap tidak tergoncang batinnya menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Barulah dalam kesendiriannya anak itu akan menangis, menguraskan air matanya. Apakah ia telah bersikap munafik di hadapan ayah dan orang-orang lainnya yang menjenguk sebagai tamu? Sikap menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya juga dapat terjadi karena faktor budaya yang sofistik. Ada orang yang dipermalukan secara telak di hadapan umum namun tetap tenang. Mimik mukanya pun hanya samar. Lain halnya mereka berbudaya kurang sofistik. Mereka tentu akan mudah mengumbar perasaanny...

Menjaga 3K

Percaya atau tidak, bahwa menjalani hidup memang berbeda seribu derajat dengan membahas kehidupan. Dalam membahas kehidupan seperti dalam tulisan ini, enak saja kita mengganti, mengubah dan meng-audit langkah sekehendak kita, tetapi dalam menjalani, tentu saja tidak bisa kita meng-audit dan mengubah sekehendak kita. Ada sedikitnya tiga hal yang perlu dijaga seiring dengan keputusan kita untuk meng-audit dan memperbaharui langkah, yaitu: Pertama,  Kebutuhan . Kata orang, kebutuhan itu tidak mengenal kata nanti, bahkan ampun pun tidak. Ada juga yang mengatakan bahwa lebih enak ngomong sama orang yang marah ketimbang ngomong sama orang yang lapar. Ini semua menunjukkan bahwa kebutuhan itu tidak bisa diganggu-gugat dan karena itu, agenda apapun yang akan kita jalankan, hendaknya jangan sampai menganggu aktivitas kita dalam memenuhi kebutuhan. Atau dengan kata lain, hendaknya kita tetap menjalankan aktivitas yang sasarannya untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak bisa diganggu...

Hidup adalah sebuah Pilihan

Ketika seseorang berusaha dengan daya upaya yang paling oftimal, dan ternyata hasilnya masih jauh dari yang diinginkan, maka betapa kecewanya. Ada satu hal yang penting untuk dihindari dan ada satu hal yang perlu untuk dilakukan. Satu hal yang penting untuk dihindari adalah membiarkan diri kita larut, hanyut, dan tenggelam ke dalam situasi dan meratapinya. Lalu mengusahakan dan mewujudkan hal yang positif itulah yang mesti dilakukan. Untuk mendapatkan hal-hal positif tentu dibutuhkan inisiatif.  Salah satu pilihan yang telah dipilih oleh sekian banyak orang adalah menjadikan hal-hal buruk yang tidak diinginkannya sebagai ”defining moment”. Artinya, penderitaan yang dialami, entah itu besar atau kecil, dadakan atau berkepanjangan, dijadikan dorongan yang benar-benar tepat untuk melakukan perubahan, perbaikan, audit, dan seterusnya. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai moment untuk menaikkan standar prestasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Rasanya benar sekali bahwa kita perlu men...