Ketika seseorang bersikap lain dari pada jati dirinya, dengan mudah ia dinilai orang yang munafik. Juga ketika seseorang menyembunyikan "perasaan batin sesungguhnya" karena alasan kuat tertentu. Ketika seorang anak yang tahu ayahnya mengidap penyakit fatal pada stadium akhir tetapi ia bersikap biasa-biasa saja, mungkin anak itu juga akan menganggap ayahnya munafik. Namun sebagai anak yang 'baik' tentu menginginkan ayahnya tetap tidak tergoncang batinnya menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Barulah dalam kesendiriannya anak itu akan menangis, menguraskan air matanya. Apakah ia telah bersikap munafik di hadapan ayah dan orang-orang lainnya yang menjenguk sebagai tamu? Sikap menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya juga dapat terjadi karena faktor budaya yang sofistik. Ada orang yang dipermalukan secara telak di hadapan umum namun tetap tenang. Mimik mukanya pun hanya samar. Lain halnya mereka berbudaya kurang sofistik. Mereka tentu akan mudah mengumbar perasaanny...
Istilah KEDAI-ANGKRING berasal dari kata ngangkring/duduk santai di kedai (terjemahan bebas). Di Kedai Angkring biasanya tersedia makanan sederhana : ronde - 'wedang jahe', tempe goreng, dst dan tidak lupa nasi kucing. Kedai angkring di sini ingin menunjuk di dalamnya beberapa hal sederhana yang bisa ditampung : opini, sharing, oase atau guyonan dari seorang peziarah....yang bisa dinikmati oleh siapa saja dengan murah, meriah dan penuh kehangatan serta persaudaraan...dst