Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2008

Oportunis

Ketika seseorang bersikap lain dari pada jati dirinya, dengan mudah ia dinilai orang yang munafik. Juga ketika seseorang menyembunyikan "perasaan batin sesungguhnya" karena alasan kuat tertentu. Ketika seorang anak yang tahu ayahnya mengidap penyakit fatal pada stadium akhir tetapi ia bersikap biasa-biasa saja, mungkin anak itu juga akan menganggap ayahnya munafik. Namun sebagai anak yang 'baik' tentu menginginkan ayahnya tetap tidak tergoncang batinnya menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Barulah dalam kesendiriannya anak itu akan menangis, menguraskan air matanya. Apakah ia telah bersikap munafik di hadapan ayah dan orang-orang lainnya yang menjenguk sebagai tamu? Sikap menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya juga dapat terjadi karena faktor budaya yang sofistik. Ada orang yang dipermalukan secara telak di hadapan umum namun tetap tenang. Mimik mukanya pun hanya samar. Lain halnya mereka berbudaya kurang sofistik. Mereka tentu akan mudah mengumbar perasaanny...

Lakukanlah Segalanya dengan Hati

"Jangan sampai kamu membiarkan hatimu menjadi buta, tuli, dan bisu". Ungkapan ini kadang terlontar kepada seorang teman atau kenalan atau sahabat dekat. Sekilas memang seperti sekedar basa-basi. Tetapi jika kita cermati, ungkapan itu mau melukiskan bahwa hati manusia itu menentukan segala tindakan dan perbuatannya, baik kepada diri sendiri, maupun orang lain. Orang-orang yang hatinya buta, tidak dapat melihat dampak merugikan yang ditimbulkan dari perilakunya yang buruk. Orang-orang yang hatinya tuli, tidak bisa mendengar jerit tangis orang lain yang menderita di sekitar kita. Dan orang-orang yang hatinya bisu, tidak mampu mengatakan bisik kebajikan bahkan sekedar kepada dirinya sendiri. Soooo...Betapa berbahaya jika manusia sampai membiarkan hatinya menjadi buta, tuli, dan bisu. Sebab jika sudah demikian, ia tidak akan malu lagi untuk melakukan apa saja, bahkan seburuk apapun itu. Cintakasih itu memang mudah dikatakan tetapi sulit dilaksanakan/dihayati dalam hidup sehari...

nDablek

Itulah sebuah kata yang mau melukiskan bagaimana orang yang secara sengaja tidak mau atau sulit mendengarkan, entah itu nasihat orang lain atau aturan yang ada. Kata “ndableg” juga dapat diartikan sebagai mengikuti kemauan sendiri tanpa memperhatikan aturan atau pendapat orang lain. Tidak sedikit bahwa orang memakai istilah "Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan". Memang tidak sedikit orang yang keberatan untuk membuka diri terhadap nasihat atau mengindahkan peraturan. Ada saatnya juga kita perlu menerapkan ungkapan ndablek itu untuk diri kita sendiri. Khususnya saat kita mendengar komentar negatif dan cemoohan dari lingkungan kita, tetapi kita cenderung kurang mendengarkan dan tidak mengindahkan. Meskipun kadang itu benar, atau pun kadang sekedar omong kosong belaka. Fenomena  “nDABLEG” juga bisa kita lihat dan jumpai  dalam sisi yang lain, misalnya: di tempat dilarang merokok juga masih banyak orang merokok, di tempat orang harus antri juga masih banyak orang yang me...