"Jangan sampai kamu membiarkan hatimu menjadi buta, tuli, dan bisu". Ungkapan ini kadang terlontar kepada seorang teman atau kenalan atau sahabat dekat. Sekilas memang seperti sekedar basa-basi. Tetapi jika kita cermati, ungkapan itu mau melukiskan bahwa hati manusia itu menentukan segala tindakan dan perbuatannya, baik kepada diri sendiri, maupun orang lain. Orang-orang yang hatinya buta, tidak dapat melihat dampak merugikan yang ditimbulkan dari perilakunya yang buruk. Orang-orang yang hatinya tuli, tidak bisa mendengar jerit tangis orang lain yang menderita di sekitar kita. Dan orang-orang yang hatinya bisu, tidak mampu mengatakan bisik kebajikan bahkan sekedar kepada dirinya sendiri. Soooo...Betapa berbahaya jika manusia sampai membiarkan hatinya menjadi buta, tuli, dan bisu. Sebab jika sudah demikian, ia tidak akan malu lagi untuk melakukan apa saja, bahkan seburuk apapun itu. Cintakasih itu memang mudah dikatakan tetapi sulit dilaksanakan/dihayati dalam hidup sehari...
Istilah KEDAI-ANGKRING berasal dari kata ngangkring/duduk santai di kedai (terjemahan bebas). Di Kedai Angkring biasanya tersedia makanan sederhana : ronde - 'wedang jahe', tempe goreng, dst dan tidak lupa nasi kucing. Kedai angkring di sini ingin menunjuk di dalamnya beberapa hal sederhana yang bisa ditampung : opini, sharing, oase atau guyonan dari seorang peziarah....yang bisa dinikmati oleh siapa saja dengan murah, meriah dan penuh kehangatan serta persaudaraan...dst